WAINGAPU, BTN – Pemerintah Kabupaten Sumba Timur tengah memacu akselerasi industri rumput laut sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi pesisir. Menggandeng International Labour Organization (ILO), langkah ambisius ini ditujukan untuk memutus rantai ketergantungan petani pada penjualan bahan mentah dan mendorong transformasi menuju sektor hilir yang bernilai tambah tinggi. 15/05/2026
Namun, di balik optimisme tersebut, realita di lapangan menunjukkan bahwa perjalanan menuju kemandirian industri masih dihantui oleh ketimpangan struktural yang klasik: petani bekerja keras, namun keuntungan besar justru mengalir ke luar daerah.
Selama ini, pesisir Waingapu dan sekitarnya dikenal sebagai lumbung produksi, namun para petani tetap menjadi titik paling rentan dalam ekosistem perdagangan. Tanpa akses ke industri pengolahan lokal, harga sepenuhnya didikte oleh mekanisme pasar global dan perantara (tengkulak).
Kalau panen bagus, belum tentu untung. Harga bisa anjlok tiba-tiba. Kami yang berkeringat, tapi bukan kami yang menentukan harga,” keluh seorang petani di Waingapu kepada Brantas Tipikor New (BTN).
Kondisi ini diperparah oleh fluktuasi cuaca yang ekstrem, membuat pendapatan masyarakat pesisir terus berada di ambang ketidakpastian.
Kerja sama strategis dengan ILO diharapkan menjadi katalisator perubahan. Fokus utama kini diarahkan pada:
Pembangunan Infrastruktur: Merintis pabrik pengolahan lokal guna meningkatkan nilai jual produk.
Penguatan UMKM: Memberdayakan unit usaha kecil untuk menyerap hasil panen lokal.
Akses Permodalan: Membuka pintu bagi masyarakat pesisir untuk mendapatkan pembiayaan yang lebih adil dan transparan.
Seorang pelaku usaha lokal menegaskan bahwa potensi Sumba Timur adalah “raksasa yang sedang tidur”. “Potensi kita masif, tapi selama kita hanya menjual bahan mentah, kita kehilangan nilai ekonomi berkali-kali lipat,” ujarnya.
Isu transformasi ini juga memantik harapan di kalangan pemuda setempat. Mereka mendesak agar industrialisasi rumput laut tidak hanya menjadi “karpet merah” bagi investor besar, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang inklusif.
”Kami ingin masa depan ada di kampung sendiri. Kami ingin bekerja di sini, membangun daerah, dan tidak perlu lagi merantau jauh untuk mencari penghidupan,” tutur seorang pemuda pesisir Waingapu.
Menjadikan Sumba Timur sebagai pusat rumput laut di Nusa Tenggara Timur adalah visi yang mulia. Namun, tantangan nyata tetap membentang pada logistik yang mahal, rantai distribusi yang berliku, dan lemahnya posisi tawar petani.
Pertanyaan besarnya kini: Apakah transformasi ini benar-benar akan merombak struktur ekonomi demi kesejahteraan rakyat kecil, atau justru hanya mengulang pola lama di mana petani tetap berada di dasar piramida ekonomi?
Sumba Timur kini berada di persimpangan jalan—menuju kedaulatan industri atau tetap menjadi sekadar penyedia bahan baku bagi dunia.
Piter: Kabiro Sumba Timur






