BULAGI, BANGKEP – BTN 04/03/2026-Masyarakat Kecamatan Bulagi kini berada di titik nadir kesabaran. Di tengah kebijakan kenaikan tarif yang mencekik kantong, layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bulagi justru menunjukkan performa yang memprihatinkan. Sejak 16 Februari 2026 hingga hari ini, air tak kunjung mengalir ke rumah-rumah warga, menyisakan duka kekeringan yang berkepanjangan di tengah janji manis manajemen.
Krisis ini nyaris memicu gelombang demonstrasi besar-besaran sebelum akhirnya dimediasi oleh Polsek Bulagi. Namun, mediasi tersebut justru menguliti bobroknya koordinasi internal pengelola air bersih di daerah tersebut.
Mujiharto Panga, salah satu tokoh yang vokal menyuarakan jeritan masyarakat, menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekedar kendala teknis biasa, melainkan cermin kegagalan manajemen yang fatal.
“Kami dipaksa membayar lebih mahal, tapi hak dasar kami untuk mendapatkan air bersih justru dirampas. Ini bukan lagi soal kerusakan alat, ini soal empati dan manajemen yang bobrok! Rakyat sudah cukup bersabar dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal,” tegas Mujiharto Panga dengan nada geram dalam pertemuan tersebut.
Dalam diskusi panas antara perwakilan masyarakat, PDAM, dan pihak kepolisian, terungkap sejumlah fakta yang dinilai warga sebagai upaya “cuci tangan”
Pihak PDAM terkesan saling menyalahkan dan tidak satu suara dalam menjelaskan penyebab teknis macetnya distribusi air.
PDAM sempat berdalih bahwa tegangan listrik (voltase) yang tidak stabil menjadi biang keladi pompa tidak maksimal. Namun, pengecekan langsung ke pihak PLN memastikan bahwa tegangan listrik di wilayah tersebut normal dan stabil.
PDAM telah menyusun jadwal distribusi air, namun realitanya air tetap tidak mengalir. Janji tersebut dinilai warga hanya sebagai strategi untuk meredam kemarahan sesaat tanpa solusi nyata.
Mujiharto Panga juga menambahkan bahwa masyarakat tidak akan tinggal diam jika dalam waktu dekat aliran air tidak segera dinormalisasi. “Jangan salahkan rakyat jika kantor PDAM kembali didatangi. Kami menuntut pertanggungjawaban penuh atas kerugian materiil dan moril yang dialami warga sejak Januari lalu,” tambahnya.
Meski Kapolsek Bulagi telah turun tangan melakukan mediasi demi menjaga kondusivitas wilayah, suasana di akar rumput tetap memanas. Selama keran warga masih kering, selama itu pula mosi tidak percaya terhadap PDAM Bulagi akan terus bergulir.
Masyarakat Bulagi kini menunggu satu hal: Buktinya, bukan janjinya.






