BANGKEP, BTN – Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran desa di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) kembali dipertanyakan publik. Sorotan tajam kini tertuju pada Inspektorat Kabupaten Bangkep yang dinilai abai, tumpul, dan terkesan melindungi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas mandeknya sejumlah proyek pembangunan, salah satunya di Desa Tatakalai. 26/09/2025
Potret buram pembangunan terlihat jelas di Desa Tatakalai, Kecamatan Tinangkung Utara, di mana dua proyek strategis yang didanai melalui Dana Desa (DD) sejak tahun 2019 kini terbengkalai dan menjadi ‘monumen’ kegagalan.
*Proyek Mangkrak: Dana Cair, Bangunan Tak Selesai*
Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi, dua proyek yang disorot adalah:
Pekerjaan: Pembangunan Balai Desa/Balai Kemasyarakatan
Biaya: Rp 771.882.000
Volume: 1 Unit
Pekerjaan: Pembangunan/Peningkatan Sumber Air Bersih Milik Desa
Biaya: Rp 210.667.000
Volume: 1 Unit
Total anggaran yang telah digelontorkan untuk dua proyek ini mencapai hampir satu miliar rupiah, tepatnya Rp 982.549.000.
*Namun, alih-alih memberikan manfaat,*
Balai Desa yang seharusnya menjadi pusat kegiatan masyarakat kini hanya berupa kerangka bangunan yang kosong dan lapuk (seperti terlihat dalam foto), sementara proyek air bersih terkesan ditinggalkan dan tertutup semak belukar.Ke Mana Saja Inspektorat Selama 6 Tahun?
Proyek yang dimulai sejak 2019 dan kini memasuki tahun keenam seharusnya sudah tuntas dan berfungsi penuh. Kenyataan mangkraknya bangunan ini memicu pertanyaan kritis: Apa sebenarnya kerja Inspektorat Bangkep selama ini?
Inspektorat, yang memiliki tugas vital sebagai aparat pengawas internal pemerintah (APIP) dan bertindak sebagai ‘mata dan telinga’ bupati, seolah-olah tidak berdaya atau sengaja membiarkan penyimpangan ini berlarut-larut.
”Proyek selesai, namun bangunan tak selesai. Kami heran, Inspektorat ini sebenarnya kerjanya apa? Barang apa sebenarnya ini Inspektorat?” ujar sumber, Muhammad Saleh Gasin, yang memantau kondisi di lapangan, menyuarakan keresahan publik.
Kecurigaan publik semakin menguat. Isu beredar di masyarakat menyebutkan bahwa mandeknya penanganan kasus-kasus serupa telah membuat para pelaku penyimpangan anggaran menjadi kebal sanksi dan tidak ada efek jera.
”Drng (mereka) so tdk bku pusing it…so 6 thun berlalu…cmn bnyak gertak drng (Mereka sudah tidak ambil pusing, sudah 6 tahun berlalu, cuma banyak gertak saja),” komentar salah satu warga secara anonim, yang juga menambahkan: “Berarti org-org Inspektorat itu yg harus di periksa…rupa dorang so baku TILEP (Berarti orang-orang Inspektorat itu yang harus diperiksa, sepertinya mereka sudah saling melindungi/korupsi).”
Pembiaran dan Sikap ‘Cuek’ Pimpinan Daerah
Kondisi ini semakin diperparah dengan kesan ‘cuek’ dan tidak peduli dari pimpinan tertinggi dan para pejabat daerah Bangkep.
”Heran juga pak kenapa malah pimpinan tertinggi & para pejabat terkesan cuek & tidak peduli dengan kondisi daerah Bangkep. Memang banyak penyimpangan & pelanggaran yang dibiarkan saja. Apa tidak ada keinginan untuk memperbaiki ini daerah agar lebih maju?” tanya M. Saleh Gasin.
Mangkraknya proyek di Tatakalai hanyalah puncak dari gunung es masalah pengawasan internal di Bangkep. Jika Inspektorat tidak mampu menyelesaikan kasus yang jelas buktinya di depan mata, bagaimana publik dapat percaya pada integritas tata kelola pemerintahan daerah?
Publik menuntut agar Bupati Bangkep mengambil langkah tegas dan cepat, tidak hanya mendesak Inspektorat untuk bekerja, tetapi juga mengevaluasi secara menyeluruh kinerja institusi pengawas tersebut.
Kerugian negara yang berpotensi terjadi akibat proyek mangkrak ini harus diusut tuntas, dan Aparat Penegak Hukum (APH) diminta untuk segera turun tangan jika Inspektorat terus ‘Tutup Mata’.
Sudah waktunya Inspektorat Bangkep membuktikan bahwa mereka adalah pengawas, bukan pelindung!
Kepala Inspektorat saat dikonfirmasi media ini,belum memberikan tanggapan sedikipun,Untuk keseimbangan berita,media ini akan tetap berusaha mengkonfirmasi pada pihak inspektorat Bangkep terkait bangunan yang mandek tersebut,agar ada kejelasannya






